Breaking News

Tak Sekadar Lebaran, Syaifuddin Mustaming Ajak Umat Maknai Idul Fitri sebagai Momentum Kembali ke Fitrah

 


Foto Syaifuddin Mustaming (tengah) dan Camat Kolaka Ritzky Mario bersama warga setelah Shalat Idul fitri di Lapolangan Larumbalangi Kabupaten Kolaka


Konggainfo.com - Kolaka - Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kolaka yang juga menjabat sebagai Kabag Kesra Kabupaten Kolaka, Syaifuddin Mustaming, menyampaikan khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah/ 2026 Masehi, di Lapangan Larumbalangi, Kelurahan Lalombaa, Kecamatan Kolaka, Kabupaten Kolaka, Sabtu (20/03/2026).

Dalam khutbahnya yang mengangkat tema “Memaknai Fitrah”, Syaifuddin mengajak seluruh umat Islam untuk kembali menyadari hakikat diri sebagai hamba Allah SWT yang memiliki keterbatasan dan ketidakmampuan, sehingga sudah sepatutnya senantiasa mensyukuri segala karunia berupa rahmat, hidayah, dan inayah dari-Nya.

Ia menegaskan bahwa seluruh kehidupan manusia berada dalam kekuasaan Allah SWT. Mulai dari detak jantung, aliran darah, hingga pergantian siang dan malam merupakan bukti kebesaran dan keagungan-Nya.

“Dialah yang menciptakan kita, menghidupkan kita, dan mengatur seluruh alam semesta. Maka marilah kita menundukkan diri, berzikir, serta mengagungkan asma Allah SWT bersama seluruh hamba-Nya yang taat dan mencintai-Nya,” ungkapnya di hadapan jamaah.

Syaifuddin menjelaskan bahwa perayaan Idul Fitri bukan sekadar tradisi, melainkan tanda keberhasilan umat Islam dalam melaksanakan dua perintah sekaligus, yakni kewajiban berpuasa selama bulan Ramadan serta anjuran menghidupkan malam-malam Ramadan dengan ibadah.

urutnya, Idul Fitri disebut sebagai hari raya fitrah karena menjadi momentum kembalinya manusia kepada kesucian, sebagaimana bayi yang baru dilahirkan. Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasai, bahwa orang yang berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap pahala akan diampuni dosa-dosanya.


Dalam khutbah tersebut, ia juga menguraikan sejumlah persamaan antara bayi yang baru lahir dengan seorang muslim yang telah menunaikan ibadah puasa Ramadan secara sempurna. Di antaranya adalah sama-sama dalam keadaan suci tanpa dosa, sama-sama melalui proses penantian, serta sama-sama diiringi dengan kalimat takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.

Lebih lanjut, Syaifuddin menekankan pentingnya menjadikan Idul Fitri sebagai momentum untuk meningkatkan kepedulian sosial. Ia mengisahkan teladan Rasulullah SAW yang menunjukkan kasih sayang kepada anak yatim di hari raya, sebagai bentuk nyata bahwa kebahagiaan Idul Fitri harus dirasakan oleh semua kalangan, terutama fakir miskin dan kaum dhuafa.

“Sebagai umat Rasulullah SAW, sudah sepatutnya kita meneladani sikap beliau dengan berbagi, membantu sesama, dan menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan,” jelasnya.

Di akhir khutbahnya, Syaifuddin mengajak umat Islam untuk menjaga kesucian yang telah diraih selama Ramadan dengan menjauhi segala bentuk perbuatan dosa, baik kecil maupun besar. Ia juga mendorong agar Idul Fitri dijadikan sebagai titik awal untuk membangun kehidupan yang lebih baik serta memperkuat persatuan melalui ukhuwah Islamiyah, ukhuwah basyariyah, dan ukhuwah wathaniyah.

“Marilah kita pelihara predikat ketakwaan yang telah kita raih agar tetap utuh dan tidak rapuh dalam kehidupan sehari-hari,” tutupnya.

Ia pun mengakhiri khutbah dengan doa agar Allah SWT senantiasa melimpahkan hidayah dan taufik-Nya kepada seluruh umat Islam serta memberikan syafaat Rasulullah SAW.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah, Minal ‘Aidin wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin.


(red)

Tidak ada komentar